dr. Botefilia Arjunadi SpOG, Spesialis Obstetri dan Ginekologi. Dokter Kandungan Perempuan, RSP - Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, RSIA Tambak, Rumah Sakit Tria Dipa. Senam Kehamilan dan Sex. Melahirkan secara normal. Prematur. Partus (Melahirkan) Persalinan normal Partus Normal
03 Dec 2008 Hari yang tak akan terlupakan (2)
 |  Category: Episode di Tidore  | Tags:

tidoreSabtu, 26 Maret 2005

Perjalanan hari ini cukup melelahkan. Jam 3 dini hari, aku dan mas Ari sudah bangun dan siap mau berangkat. Tadi malam semua kumpul dirumah, my mom & my sisters. Semua merasa sedih, biasanya kami berempat, si manis manja group, selalu sama-sama, ngerumpi bareng, karaoke bareng, biasanya juara bertahan perempuan : Alma, dan juara bertahan laki2 : Mas Ari, Naresh paling hancur suaranya, diikuti oleh Pri, hehehe….Sekarang aku akan pergi. Dan selalu aku lagi yang pergi. Tahun 95-98 aku ke gunung kidul, Jogja, untuk PTT 3 tahun. Tapi jogja kan dekat, 2minggu sekali aku bisa pulang ke Jakarta, bisa tetap bareng dan jalan2 ke puncak, kumpul2 bocah, apalagi dulu baru Alma yang nikah. Dulu kemana2 berlima, dengan si cantik Chandni, yang masih berumur 5 tahun waktu aku tinggal ke Jogja. Chandni sangat rajin menulis surat untukku, dia baru bisa menulis dan membaca saat itu.

Sekarang aku pergi ke Tidore, daerah yang belum aku kenal. Jauuuh banget rasanya, hampir 5 jam perjalanan udara. Dari Jakarta pesawat berangkat jam 5 WIB, kemudian sampai jam 8 di Makassar (WITA), menunggu lagi baru berangkat jam 10.00 Wita, sekarang udah jam 13.30 Wit, dan pesawat masih diudara Indonesia timur. Aku masih termangu di tepi jendela pesawat, bercerita dalam keheningan suara. Mas Ari sangat mengerti perasaanku, dia tidak menggangguku. Aku melihatnya lelap disampingku. Pasti dia sangat lelah, semalam kami ngobrol sampai malam, dan jam 2 sudah bangun untuk siap siap berangkat. Aku tidak bisa tidur. Takdir apa yang akan kujalani ?

Anak-anak masih lelap ketika aku tinggal pergi, aku menyelimuti keduanya dengan perasaan kacau balau, perjalanan paling lama yang pernah aku lakukan adalah waktu pergi ke Pertemuan Ilmiah Obsgin di Jogja tahun 2003, saat Ghina masih bayi, 4 hari, itu aja rasanya lamaaaa sekali.
Ghozi, si gendut yang masih berusia 4 tahun, sekarang tidur memeluk adiknya Ghina, si cantik kriwil yang masih berusia 2 tahun. Aku pasti tidak akan sanggup kalau mereka tidak ikut dengan aku. Foto2 mereka aku bawa di dompet dan di tas tanganku. Aku meneteskan airmata tadi pagi. Dan sekarang aku juga meneteskan airmata di tepi jendela pesawat.

Pesawat mulai turun dari ketinggiannya, sejauh pandang hanya lautan yang tampak, dan pulau kecil2. Tidore adalah satu kota kepulauan yang terletak antara pulau ternate dan pulau Halmahera ([pulau kecil berbentuk huruf k, kalau dipeta). Sekelilingnya laut, dan pemukiman penduduknya berada di sepanjang pantai, begitu cerita yang kudengar dari Mas Oman dan dr. Yudi, yang pernah tugas di sana. Dr. Yudi sangat terkesan dengan TIdore, dan dia yang banyak support aku untuk berangkat, dia meyakinkan aku bahwa aku pasti akan senang disana, dan aku bisa bawa anak2, tanpa rasa khawatir. Satu hal lagi yang sempat membuatku khawatir, bagaimana dengan profilaksis malaria ? Mas Oman menenangkan aku dengan mengatakan anak2nya 3 orang tidak pernah dia berikan profilaksis malaria.

Terdengar pengumuman bahwa pesawat akan sampai di bandara Sultan Babullah, Ternate. Aku melongokkan kepala, tidak tampak gambaran bandara seperti di Jakarta, Makassar atau Surabaya, tempat2 yang dekat laut. Dimana bandaranya ?? Mas Ari terbangun, dan ikut melongokkan kepalanya, dkeningnya berkerut, kemudian tertawa, itu lho….Te, bandaranya, dia menunjuk pulau kecil. Mana sih ?

Ya ampun, ternyata ada titik kecil di pulau kecil, yang ternyata bandara. AKu semakin berdebar, takdir apa yang menantiku disini ? aku menggenggam tangan mas Ari, aku merasa takut, aku si gadis kecil yang dulu selalu tidak mampu beradaptasi dengan baik, yang selalu tidak percaya diri, dan sekarang aku akan sendirian di suatu pulau di Indonesia timur yang tidak aku fahami. Mas Ari menghiburku dengan mengatakan, sampai juga kita di Indonesia timur, mimpi aja nggak ya harus tinggal disini ? Pasti asyik deh..
Ya ampun lagi, bandaranya persis seperti terminal bis, kotor, kecil dan tidak terawatt, orang2 ramai berebutan tas. Tas dan koper dibawa dengan mobil bak terbuka, kemudian dipindahkan secara manual, tidak ada ban berjalan. Orang2 sudah berebutan sejak tas masih di mobil bak terbuka. Tidak ada kedisiplinan, dan suaranya ribuuuut sekali. Mereka hitam2 dan berambut keriting. Ada beberapa yang agak putih. Logat khas Indonesia timur mulai berkumandang. Inikah takdir yang akan kujalani ?

Aku diberi tahu bahwa bidan senior, bernama bidan Zainur akan menjemputku. Aku tidak tau yang mana orangnya. Seorang ibu2 berusia 45 tahunan, bertubuh agak gemuk, berwajah bulat, tidak hitam, mirip orang manado, menyapaku, dokter Bote ?
Aku tersenyum lega, akhirnya ada juga yang mengenalku diantara puluhan orang yang terasa asing. Aku mengulurkan tangan, dan memeluknya. Dia memelukku hangat, bersalaman dengan Mas Ari, dan memperkenalkan adiknya, ibu Shidna, dan supir Rumah sakit, Pak Tata. Meskipun hitam dan besar, Pak Tata terlihat ramah, dengan sederetan gigi putihnya.
“ Dokter, kasih tahu saja, yang mana dokter punya tas ?” Aku harus membiasakan diri dengan logat mereka. Logatnya campuran antara manado, makasar dan ambon. Mas Ari berjalan bersama Pak Tata, mencari barang2 bawaanku. Aku, bidan Zainur (kemudian aku selalu memanggilnya dengan mama Nu’, panggilan kesayangan orang-orang rumah sakit pada ibu Zainur), dan bu Shidna berbincang bertiga. Bu Shidna, terlihat lebih langsing dari Mama’ Nu, dan lebih tinggi, terlihat dewasa, lebih putih, sepintas wajah mereka tidak mirip, tapi kalau diperhatikan lebih lama, ada kemiripannya.

Setelah semua beres, kami pergi ke mobil Avanza, carteran. Mobil kita akan menunggu di Tidore, dokter, kata Pak Tata. Perjalanan kami lanjutkan sampai ke pelabuhan kecil Teernate, bernama Bastiong, dimana sudah menunggu banyak speedboat dan kapal2 kecil. Kami naik speedboat, dicarter untuk pribadi. Perjalanan melalui laut kami tempuh dalam 10 menit yang mendebarkan. Pengalaman pertama naik speedboat, mas Ari tertawa meliahat aku yang terlihat ketakutan, dia udah biasa kalau tugas ke Kalimantan. Duh, aku kan gak bisa berenang.

“Dokter punya mobil nanti yang akan kita pakai pulang ke rumah sakit” kata Pak Tata lagi.
Aku sempat berdebar lagi, udah lama banget aku gak bawa mobil, masih bisa nggak ya ?  Menjelang lulus FKUI th 2004, aku mulai bawa mobil Suzuki jimnyku ke kampus, antar ibu belanja ke Makro kelapa gading, bahkan pernah nyasar ke Cakung sama ‘Neng, adikku. Kemudian PTT di Jogja, aku gak dapat mobil dinas, karena bukan kepala Puskesmas, 3 tahun kemana2 nebeng kepala puskesmas, dan nebeng temen2 dokter yang sama2 di kecamatan Panggang, gunung kidul. Kalau di Jogja kemana2 diantar naik motor, sama Lintang, soulmate setempat tidur di kos2an (yang akhirnya aku jodoh2in dengan Mas Andri, yang udah kayak saudara sama keluargaku), dianterin Iwan, sepupuku yang kuliah di Jogja, dan dianterin sama temen2 ku alumni boedoet yang satu kos sama Iwan. Setelah selesai PTT, aku kenal mas Ari yang juga rajin nganter aku kemana2, dan udah ada supir Ibu, Agus. Praktis aku udah gak nyetir selama 10 tahun lebih ! Sekarang aku harus mandiri again.

Sampai di pelabuhan kecil di Tidore, yang bernama pelabuhan Rum. Perjalanan kami lanjutkan lewat darat, naik mobil Suzuki carry berwarna hijau tua, keluaran tahun 2003. Mobil yang kelak kusayangi (dan selalu kurindukan), yang nantinya  selalu menemaniku selama satu tahun di Tidore.
“Ini mobil, dokter Bote yang akan pakai,” kata Pak Tata. Mama Nu’ cerita, mobil ini keluar waktu dr. Surahman (mas Oman)  bertugas, tapi yang sering bawa ibu Surahman, karena rumah sakit kan Cuma dibelakang rumah dinas dokter. Kalo ibu kan harus antar anak2 sekolah, ke pasar. Semua dokter dapatnya mobil ambulans, hanya dokter kebidanan yang dapat mobil preman, tidak berwarna putih.

Perjalanan kami tempuh dalam waktu 45 menit, ternyata Tidore indah sekali, tidak seperti Ternate yang semrawut dan kumuh, TIdore begitu lengang, jalanannya halus, Sangat jarang ditemui mobil, dispanjang jalan setiap 100-200 meter pasti ada masjid, meskipun terlihat sepi, karena jumlah mesjid tidak sebanding dengan jumlah penduduknya mungkin. Terasa sekali ketenangan dan kedamaian begitu menginjakkan kaki di tanah (kelak akan kusebut tanah tercinta) Tidore. Aku sangat menyukainya, tiba2 saja aku sudah jatuh cinta!

Jam 15.00 Wit ( Perjalanan 12 jam ! sejak berangkat dari rumah. Actually sih hanya 10 jam, karena ada perbedaan waktu 2 jam ). Sampailah kami di Soasio, dimana hanya ada satu RS bernama RSUD Soasio. Kami masuk ke kompleks Rumah dinas dokter di jalan H.Mas Mansyur. Perumahan dinas dokter berada tepat disamping dan belakang Rumah sakit umum satu-satunya di Tidore.
Kami berhenti didepan sebuah rumah yang tampak luas, dengan ayunan anak2 yang terbuat dari ban bekas didepan halamannya. Ayunan itu yang buat dr.Surahman untuk anaknya, kata mama Nu’. Rumah itu terletak nomor 2 dari jalan besar. Dihalaman rumah pertama, sudah menunggu 3 orang, yang tersenyum melihat kedatangan kami. “Siapa ?” Tanyaku pada mama Nu’, “ dr. Fajar, dr. Rini, dr. Endang,” kata mama Nu’, “ketiganya dokter umum RS”. Kelak mereka menjadi  sahabat2 ku di Tidore, 3 dari kami ber 7, bersahabat di Tidore, yang akan selalu kukenang.

Begitu aku turun dari mobil, mereka menyambutku hangat, ketiganya sangat berlogat jawa ! Dokter Endang orang Jawa yang besar di Gorontalo, Dokter Rini dan dr. Fajar suami istri yang berasal dari Surabaya. Akan kutulis bab special untuk sahabat2ku. Mereka merasa surprise dengan aku, yang terbayang di pikiran mereka, aku keturunan Chinese, tidak berjilbab. (suatu saat aku protes pada mereka, karena aku kan keturunan Perancis, peranakan ciamis hehe…)
Dan mereka merasa kaget, tidak seperti bayangan mereka, aku tampak terlihat sebagai gadis polos dan berjilbab, seperti ibu dokter (maksudnya istri dokter, yang pantes jadi dokter mas Ari, kata mereka ). Aku tidak tampak angker, dan tegar seperti bayangan mereka tentang dokter obsgyn perempuan.

Setelah ngobrol2 sebentar, serombongan laki2 keluar dari areal rumah sakit menembus ke perumahan melewati gang diantara rumah ku dan rumah dokter Endang. 3 orang memperkenalkan diri. Seorang laki2 jangkung dan kurus dengan wajah mirip orang timur tengah, bernama dr. Rizal, ahli bedah. Dr. Supriono, spesialis penyakit dalam, berperawakan mirip mas Ari, dan sangat jawa. Seorang lagi PPDS Anestesi ( tidak ada dokter spesialis anestesi di Tidore, jadi setiap 2 bulan ada PPDS anestesi dari Unhas yang bertugas di Tidore).

Dr.Endang, dr. Fajar, dr. RIni, dr. Rizal, dr. Supriadi, aku dan 1 orang lagi yang berkenalan belakangan, dr. Bur, spesialis anak. Kelak Kami bertujuh mengisi hari2 di Tidore dengan Indah, bersahabat. Setiap 2 bulan sekali mas Ari akan datang dan bergabung dengan kami ber 7.

Hari ini, tidak akan pernah terlupakan.

Email This Post Email This Post Print This Post Print This Post
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
One Response
  1. Umi abdul aziz says:

    Dok sekarang tugas dimana?

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:wink: :twisted: :roll: :oops: :mrgreen: :lol: :idea: :evil: :cry: :arrow: :D :?: :-| :-x :-o :-P :-? :) :( :!: 8-O 8)