Perempuan yang dicintai suamiku
Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.
Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.
Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.
Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.
Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.
Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.
Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.
Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.
Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,
” Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, ” lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !
Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.
Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.
Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.
Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.
Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, ” Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?”
Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,
Dear Meisha,
Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.
Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.
Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.
Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.
yours,
Mario
Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.
Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.
Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.
Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.
Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.
Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.
**********
Setahun kemudian…
Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
” Mario, suamiku….
Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..
Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.
Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, ” kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?”
Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.
Istrimu,
Rima”
Di surat yang lain,
“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”
Disurat yang kesekian,
“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.
Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….
Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.
Disurat terakhir, pagi ini…
“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.
Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.
Tahukah engkau suamiku,
Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”
Jelita menatap Meisha, dan bercerita,
” Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……” Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.
Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.
Dear Meisha,
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?
Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….
Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.
Jakarta, 7 Januari 2009



tragis banget ya ceritanya, kita bisa ambil hikmahnya:
- jangan terlalu emosi yg berlebihan, sampe banting2 segala.
- berusaha mensyukuri apa yg sdh kita dapatkan, kalo udah jodohnya ya terimalah apa adanya dgn kelebihan & kekurangan serta berusaha memberikan yg terbaik utk pasangan & keluarga dgn ikhlas jgn smp nyesel setelah ada kejadian tragis (terlambat).
- kita juga semua bisa mengalami yg spt ini (klu bisa jangan deh), jd waspadalah.
- klu punya masalah jgn dipendem sendiri (bisa stress), usahakan sharing dgn org yg bisa kasih solusi & jaga rahasia.
*****************
gaya penulisan elu oke juga te, belajar dimane? udah layak tuh jd penulis cerpen.
wassalam
ady
Dy, thanx ya komentarnya
ini cerpen pertama yang selesai dalam 24 jam setelah 20 tahun gak pernah nulis cerita fiksi hehe….
kaget banget saat sy buka komputer ini.
langsung masuk ke alamat ini
dari sana ada pembelajaran yang sy dapat :
1. Pahamilah arti cinta
2. belajarlah mengerti perasaan wanita.
3. jangan hilangkan apa yang ada.
4. belajarlah sabar.
5. ingat, penyesalan datang terlambat.
6. jadikan semuanya penuh dengan cinta.
SALAM SUKSES
Hai,salam kenal
gak nyangka juga ada yang nyasar ke sini, tapi makasih ya udah mau baca2
dan makasih atas komentarnya. Semoga bisa jadi pencerahan buat kita semua
ampun deh, enam kali baca, ttp nangis jg.
tp.. sempet berantem sm pacar gara2 ini. soalnya pacarku yg forward ke email. rada tersinggung gitu.. haha. btw, terima kasih lo. bagus bgt isinya. btw, murni cerpen yah?
Murni cerpen, fiksi, tapi memang terinspirasi dari beberapa kejadian sekitar. Saya merasa sedih, dengan beberapa kejadian perceraian yang terjadi justru pada pasangan2 muda. Saya mencoba menganalisa, tadinya tulisan ini hanya untuk beberapa sahabat saya, mudah2an terinspirasi. Gak taunya, setelah saya posting dimilis, banyak yang bilang, kok mirip dengan ceritaku ? dan tiba2 aja udah dahsyat menyebar. Makasih ya atas apresiasinya, tapi jangan keseringan nangis ah…ntar tissuenya habis, hehe
aku mau donk dibikini cerpen….
waduuhh… boleh boleh….
mau curhat ?
ternyata dr sini tho link aselinya . ku baca 2 kali nangis tetep .
yg pertama dr web laintp ditulis sumbernya kaskus .
eh ini yang aseli , ternyata fiksi kirain dl tuh kisah nyata .
wah te…. tulisan loe beredar dimana-mana, he he he
Gw liat tulisan loe diposting di bbrp blog lain. Dia bilang dapat dari milis.
Suatu penghormatan buat gue, Wan, kalau banyak yang suka dan bisa dianggap menginspirasi. Dan commentmu ini juga bikin gue jadi posting lagi, setelah 20 tahun….. thx ya…
wah mbak bote… very touching story… hiks sampe netes air mata bacanya…walaupun bukan cerita nyata tapi aku kira ini banyak terjadi di keseharian kita…. ditunggu cerpen yang lain…
Hiks..hiks…aku jadi ikut terharu,Ri…percaya nggak sih, saking sangat menghayati, waktu ngetik cerpen itu juga mataku ikut berkaca-kaca, cengengnya keluar deh…..
menyentuh……Idenya bukan saat lagi nyayat pisturi kan mba? hehehe….
Kalo idenya pas lagi nyayat, fi, jadinya cerpen psycho atau horor, hehe…
hebat oi dan menyentuh hati. Kenapa ya penyesalan selalu datang terlambat, dan orang baru bisa bijak kalo udah kesandung batu???
ehh…si bumil belum bobo,
karena manusia terkadang sulit untuk belajar mensyukuri apa yang telah dianugerahkan kepadanya.
Sesuatu yang masih dalam angan, dan belum tergapai, selalu diimpikan.
Begitu juga pernikahan, harus selalu disempurnakan dari bulan ke bulan, hari ke hari, bahkan dari detik ke detik.
Kalau tidak pernah salah, tidak pernah tau apa arti benar, Di.
[...] email dari seorang teman baik – Chandra Dewi updated: sumber asli dari sini You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, [...]
well..well..
numpang mampir…
baru nemu author aslinya….
numpang copy
Gak pa pa, Nai, aku seneng kok kalau banyak yang terinspirasi dengan tulisan itu
Bu Dokter, protes aah.. ceritanya kok tragis siih.. yang happy ending doong biar lebih memberi inspirasi gitu… he he he..
Eniwey.. ngegosip lagi yuuk.. sapa tau bisa ngasih inspirasi bikin cerpen lain. Tetap istiqamah ya bu..
Iya nih, namanya juga tempayan, tempat penampungan temen2 yang curhat hehehe…
Kalau gak tragis, kurang menyentuh hati, Din
Sumpah, sumpah, sumpah, kena banget gw.
Telanjang bulat rasanya!
Thanks banget, thanks!
Syukurlah, kalau sudah kembali ke jalan yang benar, hehe…
very good and inspiring story
aku dapat cerita yang sama dari 5 milis berbeda… ngak tahu kalau besok2 ada lagi milis yg lain.
semoga bisa menjadi penulis di tempatku nanti….
Salam kenal ya Mas Adrianus
Gak nyangka, ada tokoh ngetop yang mau berkunjung ke sini.
Tawarannya menarik sekali, tapi masih amatiran nih Mas…
Mba Bote salam kenal, cerita yg kamu tulis bagus bgt, kirain aku kisah nyata. TOP BGT. Bisa masuk majalah nih Mba. Makasih utk tulisan yg indah ini.
Maria
Salam kenal juga Maria,
makasih ya atas apresiasinya
aduh, kalau masuk majalah sih masih mimpi ah, masih perlu belajar banyak
aslm..bunda epi..subhannallah bagus bgt storynya bun…ringan tp kena dihati nih..aga2 nyindir nih hehehe….hebat mba cuma 20jam aja bz kyk gini…ditunggu episode berikutnya ya bunda…
Waalaikum salam, Dian&Ano
Makasiiiiiih ya udah mampir kesini, dan baca cerpenku yang baru semata wayang, hehe..
Walah, kok bisa kesindir ya ??
waw..jadi ini penulis aslinya??
keren, saya baca di milis langganan saya. baca ini sampe bercucuran air mata. dan saking mengenanya di hati, saya langsung googling. eh nemu original source nya.
bravo!!! \(^^)/
p.s. salam kenal + ditunggu cerpen berikutnya..=)
Hai, salam kenal juga, Mayang
Makasih ya atas apresiasinya, dan pencariannya sampai nemu saya
Yah, mudah2an bisa jadi pencerahan buat yang baca dan
take home message-nya bisa sampai ke hati
Hai…aku pertama kali baca dimilis perumahanku..langsung bikin mata berkaca2 dipagi hari..huuaah huuuah..aku memang termasuk kategori orang yang mudah terharu …hu hu hu hu
Tapi cerpen itu benar sekali, “dalem banget buat gw!!!!!” “ngena bouw” begitu mungkin istilahnya.
Walaupun sudah beberapa kali dibuat tercenung sejenak dengan pesan2 senada cerpen ini, sering kali kita lupa waktu emosi datang…n kita cenderung memenangkan si emosi ini hanya untuk kepuasan sesaat dan melukai hati orang yang kita sayangi.
Mohon ijinnya untuk aku sebar ke teman2 sekantor, buat reminder n biar nangisnya ndak sendirian gitu lho…he he he
N aku post di fbuk ku, sebagai reminder ku sendiri…
Terimakasih untuk tulisannya…ditunggu tulisan2 berikutnya
Hiks..hiks…sama dong Demona, saya juga cengeng banget, mudah terharu, makanya waktu bikin cerita ini aja saya merasa terlarut dan ikut sedih. Silahkan kalau mau dibagi2 ceritanya ama teman2, buat saya sendiri juga jadi reminder. Salam kenal ya…
mbak kenapa gak dijadiin novel aja?
pasti laku keras mbak,,hehe
buruan dibikin hak cipta,,ntar takutnya disalahgunakan pihak2 yg berkepentingan..
contoh kasusnya kayak lagu ‘jauh’ itu,tau kan
Hai, Sara, Dibikin novel ? waduh, saya belum pernah tuh bikin novel. Kalau nulis lebih dari 24 jam, saya masih belum konsisten, idenya sering kelayapan kemana2, kayak sinetron kita itulah, yang makin lama makin gak jelas ceritanya hehehe…
Nice story. Luar biasa nih ibu dokter ini…
Setuju bgt dibikin novel or sinetron
Buat yg posting di blognya…alangkah baik kl nyebutin sumbernya.
Makasih, ya, mas Ari, salam kenal juga
waduh, masih belum sanggup kalo dibuat novel, apalagi sinetron, ntar endingnya bisa gak jelas
Thanks Mbak, tulisannya bagus dan benar2 mencerahkan……!!!
Mohon izin untuk Crosslink ya….biar dibaca oleh banyak orang
Sekali lagi terimakasih
Hai juga Zulhan, silahkan di Crosslink. Terima kasih ya atas apresiasinya.
ass. bunda, subhanalloh tulisannya bagus banget, dapat ide dari mana bun??? hebat disela kesibukan bunda sebagai dokter dan urus anak2, ternyata masih punya ide dan waktu untuk menulis. SUKSES yach bun……….
Waalaikum Salam Yanti,
terima kasih ya sudah mampir, dan baca cerpenku. Iya nih, ada hobi yang selama ini terpendam. Rasanya lega setelah ada kesempatan membebaskan imajinasi lagi.
Salam buat Ari dan anak2 ya…
Hebat…cerita yang sungguh mengharukan hiks hiks….Awalnya saya pikir cerita sungguhan.
Saya udah terlanjur masukkin cerpen ini ke site http://www.dakiunta.com mohon maaf tidak memberi tahu dulu (krn memang gak tahu, sy dpt dr email)
Ada komentar yg kasih info tentang Anda, sang penulis aslinya…
Salut..ada berbakat jadi penulis kayaknya
Hai, Eric, salam kenal
Terima kasih ya, sudah masukin ke site dakiunta. Saya memang tidak menyangka akan kebanjiran pembaca. Jadi selain saya posting di blog, saya kirim buat teman2 di milis SMA saya. Waktu itu saya belum cerita ke teman2 kalau saya punya blog, hanya beberapa sahabat saja yang tahu. Namanya juga iseng2 nulis. Jadi memang yang beredar yang dari milis, tanpa sumber. It’s okay, saling berbagi itu kan indah ?
hello…
gwe izin copas cerita ini ke blog…tadi kebetulan baca dari milis:)
thx ya..
Halloo juga Riri,
silahkan berbagi ya… semoga menjadi pencerahan
cerita yang sangat menggugah dan menginspirasi membuat aku semakin sayang ama istri … makasih ya mbak oh ya aku juga sudah share cerita ini ke temen2ku, maaf ya mbak ….
Hai, salam kenal Mas Zil
silahkan di share, mas, monggo
alhamdulillah, kalau semakin merekatkan pasangan, siiiplah
salam buat istri ya…
Terima kasih atas cerita yang mengharukan ini. Saya mendapatkannya berupa email dari seorang teman tanpa nama pengarang. Setelah selesai membaca, segera saja saya cari di google siapakah pengarangnya. Membaca cerita yang bagus seperti ini, minimal saya harus tahu nama pengarangnya.
Sebagai seorang suami dan anak satu, saya merasa cerita ini mirip seperti kehidupan saya. Dalam hati saya berkata “Ya Tuhan, inikah yang selama ini mengganggu di hati saya?”. Karena belum ada wanita kedua dalam hati saya, saya harus mencoba mencintai istri saya sepenuhnya lagi.
Sekali lagi, terima kasih.
Salam kenal ya mas Fazza,
4 hari terakhir ini banyak banget yang mengucapkan terima kasih pada saya.
Saya yakin ada satu kekuatan yang mengingatkan kita, termasuk mungkin mengingatkan ke diri saya sendiri, lewat tulisan saya. Alhamdulillah, hidup menjadi lebih bermakna kan, jika saling mengingatkan ?
Salam kenal, aku dapt dari milis dan berupaya cari sang penulis. Salut banget dan nyata. Seperti sms yg masuk ke HPku, oleh seorang cewek gini bunyinya “dia dapatkan tubuhku, tapi dia tak akan dapatkan cintaku, karena cintaku hanya untuk kamu opieqku”
makanya aku kira true story yg hampir mirip sms di hp-ku
Hue he he… idenya kayaknya berasal dari sms itu deh, Opieq
salam kenal juga ya…
jadi si opieq ini mario-nya toh? hue he he
Dia yang ngaku ngaku jadi Mario, tapi Mario yang ini kayaknya seneng kelayapan ke gunung2, hehehe…
ass,
mba bote slm kenal ya..
saya sdh selesai “posting’y” trus ingat sm isteri saya di rumah, saya sempatkan jg mencetak’y, untuk “oleh2..” buat isteri saya, sebelum meninggalkan kampus, trims.
wss.
Semoga istri senang dengan oleh2nya ya mas Irfan,
siiiplah, biar makin lengket
mba bote… terima kasih ya atas renungannya… saya mohon ijin untuk jadi renungan hari itu (krn sy sdh copy paste duluan) di blog saya…. semoga menjadi “berkat” bagi mba bote dan keluarga atas setiap tulisan2 mba…. salam