Tidak punya anak setelah sekian lama menikah, membuat hidup terasa tidak berguna, malas bersosialisasi karena pertanyaan2 sama akan terus mengikuti dan membayangi. Membuka facebook membuat hati semakin tersayat2 melihat begitu lucu2nya foto anak2 dari sahabat2 dan teman2, belum lagi bayi2 mungil yang menggemaskan. Duuuhhh….Belum lagi keluarga, mertua, membuat hidup tambah tidak nyaman. Tahukah anda bahwa stress dan kecemasan itu juga menambah meningkatnya angka infertilitas ?
Infertilitas adalah ketidakmampuan seorang istri untuk menjadi hamil dan melahirkan bayi hidup dari suami yang mampu menghamilkannya selama 12 bulan berturut2 dengan frekuensi coitus teratur seminggu 2-3 x.
Apa saja yang mempengaruhi terjadinya infertilitas ini ? yuk kita simak sama2,
Usia
Dengan semakin meningkatnya usia, dapat terjadi kesulitan mendapatkan anak disebabkan berkurangnya kualitas sel telur wanita tsb.
Riwayat penyakit, maupun operasi terdahulu dapat memberikan informasi tentang penyebab infertilitas. Apendisitis, peritonitis, salpingitis, dapat menyebabkan kelainan pada tuba. Hipotiroid, hipertiroid, penyakit pada hipofisis, DM dan suprarenal dapat menyebabkan infertilitas juga.
Berat badan dan perubahan pada berat badan (terlalu gemuk, terlalu kurus) mempengaruhi pengobatan infertilitas. Lemak subkutan mengandung enzim aromatase yang akan mengubah androgen menjadi estrogen. Estrogen tinggi akan menekan pengeluaran FSH dan LH, selanjutnya LH yang tinggi menekan aktivitas enzim aromatase sehingga androgen tidak dapat diubah menjadi estrogen. Pada wanita yang gemuk sering dijumpai insulin resisten. Insulin memicu sintesis DHEA di suprarenal, sehingga terjadi hiperandrogenemia.
Kadar androgen di dalam cairan folikel dan didalam serum tinggi akibatnya akan terjadi atresia folikel. Sel-sel lemak juga akan menghasilkan leptin, yang akan menekan produksi neuropeptida Y di hipotalamus. Neuropeptida ini berfungsi untuk mengurangi rasa lapar, sehingga penekanan pada neuropeptida ini akan menyebabkan selalu merasa lapar. Leptin sendiri juga memicu pengeluaran FSH dan LH. Kadar LH yang tinggi mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar androgen. Kekurusan akibat malnutrisi kronik menyebabkan tidak terbentuknya lemak dan leptin, sehingga tidak terjadi stimulasi pengeluaran FSH dan LH. Akibatnya terjadi anovulasi sampai amenore.
Pola hidup : Alkohol akan menghambat kerja enzim sulfatase dan enzim aromatase, sehingga terjadi gangguan pada sistem hormon. Nikotin mengurangi aliran darah alat genitalia dan mempercepat penghancuran hormon.
Stres memicu pengeluaran corticotrophin releasing factor (CRF) yang akan menekan pengeluaran LH dan Growth Hormone, dan memicu pengeluaran proopiomelanocortin (POMC) di sel-sel kortikotrop hipofisis bagian depan.
Gangguan hubungan seksual : penetrasi tidak sempurna ke vagina, sangat jarang melakukan hubungan seksual, atau vaginismus. Kebiasaan mencuci organ intimnya dengan cairan-cairan antiseptic, yang akan menyebabkan perubahan pada lendir serviks yang menjadi tidak ramah bagi sperma.
Analisa hormonal
Bila dari anamnesis didapatkan riwayat atau sedang mengalami gangguan haid, atau dari pemeriksaan suhu basal badan ditemukan anovulasi. Prolaktin merupakan hormon yang harus diperiksa. Hiperprolaktinemi menyebabkan gangguan sekresi GnRH yang mengakibatkan anovulasi. Kadar prolaktin diperiksa antara jam 7 – 10 pagi. Penggunaan obat-obat psikofarmaka dapat meningkatkan kadar prolaktin. Peningkatan kadar prolaktin 30-50 ng/ml perlu dipikirkan adanya penggunaan tranquilizer dan hipotiroid.
Uji Pascasenggama (UPS)
Dilakukan 2-3 hari sebelum perkiraan ovulasi, dimana ‘spinnbarkeit’ dari getah serviks mencapai 5 cm atau lebih. Pengambilan getah serviks dari kanal endoserviks dilakukan setelah 2-12 jam sanggama. Pemeriksaan dilakukan dengan mikroskop. UPS (+) jika ditemukan paling sedikit 5 sperma per lapang pandangan besar (LPB=400 x). Hasil UPS yang normal dapat menyingkirkan sebab infertilitas dari suami.
Penilaian ovulasi
Mengukur suhu basal badan : dikerjakan tiap pagi sebelum bangkit dari tempat tidur, ataupun makan minum. Termometer (khusus) ditempatkan dibawah lidah selama 4 menit. Dikerjakan tiap hari sebelum matahari terbit, dan pada keadaan badan tidak demam. Jika wanita berovulasi maka grafik akan memperlihatkan gambaran bifasik. Pada siklus haid yang tidak berovulasi maka gambaran grafiknya monofasik. Namun gambaran monofasik belum tentu tidak terjadi ovulasi. Kesalahan berkisar 20%.
Cara lain dengan menggunakan USG transvaginal dan pemeriksaan hormon progesteron darah. Dari USG akan dilihat pertumbuhan folikel, bila diameternya mencapai 18-25 mm, berarti folikel telah matang dan tidak lama lagi akan terjadi ovulasi.
Penilaian ovulasi secara endokrinologi dilakukan dengan pemeriksaan LH dan 17β-estradiol darah. Darah harus diambil tiap hari yang dimulai pada hari ke-10 sampai terjadi ovulasi. Pada preovulatorik terjadi peningkatan 17β-estradiol yang kadarnya mencapai puncak dalam 24 jam, yaitu antara 150-300 pg/ml. Kadar estrogen ini menyebabkan pengeluaran LH dari hipofisis (puncak LH). Estradiol dan LH merupakan hormon yang sangat penting untuk dapat terjadinya ovulasi. Namun LH yang terlalu tinggi dapat menyebabkan estrogen terlalu banyak diubah menjadi androgen, sehingga ovulasi tidak terjadi. LH yang terlalu tinggi juga menyebabkan luteinisasi lebih cepat. Korpus luteum menjadi terlalu cepat memproduksi progesteron dan perubahan pada endometrium menjadi terlalu cepat, sehingga nidasi akan terganggu.
Gangguan ovulasi idiopatik dapat diberikan estrogen (feedback positif) atau klomifen sitrat (feedback negative), yang akan merangsang gonadotropin dalam jumlah besar. Gonadotropin memicu pertumbuhan folikel yang diikut dengan meningkatnya kadar estradiol darah dan tercapainya puncak LH. Bila tidak berhasil juga maka untuk pematangan folikel diberikan gonadotropin dari luar.
Pemeriksaan bakteriologi
Infeksi akan menyebabkan pergerakan tuba fallopii terganggu. Dalam proses penyembuhan terjadi perlekatan tuba dengan jaringan disekitarnya, sehingga terjadi kesulitan tuba untuk menangkap telur. Chlamydia trachomatis dan gonokok sering menyebabkan sumbatan tuba. Laparaskopi sebagai baku emas untuk melakukan biakan kuman yang diambil dari cairan peritoneum. TORSCH masih kontroversi. Namun jika ada riwayat abortus berulang atau kelainan bawaan pada kehamilan sebelumnya, dapat diperiksa.
Analisis Fase Luteal
Insufisiensi korpus luteum menyebabkan transformasi endometrium tidak adekuat, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan progesteron pada pertengahan fase luteal, kadar normalnya 10 ng/ml. Pengobatan insufisiensi korpus luteum dengan memberikan progesteron alamiah, lebih baik intravagina.
Diagnosis Tuba Fallopii
Untuk mengetahui kelainan pada tuba dengan berbagai cara berikut :
1. Uji insuflasi : Dilakukan pada paruh pertama siklus haid, dengan meniupkan CO2 melalui kanal serviks dan dibuat rekaman kimograf terhadap tekanan uterus. Sudah mulai tidak dikerjakan lagi.
2. Histerosalpingografi (HSG) : Dilakukan pada paruh pertama siklus haid. Tidak senggama paling sedikit 2 hari sebelum dilakukan HSG. Dilakukan dengan cara menyuntikan larutan radioopak melalui kanalis serviks ke uterus dan tuba fallopii. HSG tidak boleh dilakukan pada pasien dengan salpingitis.
3. USG : Melihat tuba fallopii dengan USG sama prinsipnya dengan HSG
4. Hidrotubasi : Digunakan cairan yang mengandung antibiotikan kanamisin 1 gram, deksametason 5 mg, dan spasmodik cair yang biasanya mengandung hiosin dan metamizol.
5. Laparaskopi : Cara terbaik untuk menilai fungsi tuba fallopii, karena kedua tuba dilihat secara langsung dan patensinya dapat diuji dengan menyuntikkan larutan biru metilen atau indigokarmin. Juga dapat dilihat kelainan lain seperi endometriosis, perlekatan pelvis dan patologi ovarium. Laparaskopi dapat dikerjakan bersamaan dengan histeroskopi. Oleh karena invasif, perlu dipikirkan apakan tindakan ini sudah harus dilakukan pada awal atau pada tahap akhir pemeriksaan infertilitas.
Analisis Sperma
Dilakukan pada tahap awal. Selain kuantitas juga dilahat kualitas dari motilitas maupun morfologi spermatozoa. Bila ditemukan fruktosa didalam semen, maka harus dilakukan tindakan biopsi testis, untuk melihat adanya kelainan yang bersifat kongenital.
Fertilisasi in vitro
Pembiakan (kultur) dilaboratorium dari hasil inseminasi sel benih pria ke sel telur yang diambil dengan cara pengisapan folikel matang dari indung telur sehingga membentuk embrio, yang akan dilanjutkan dengan transfer embrio de dalam rahim melalui saluran leher rahim atau transservikal. Laju keberhasilan IVF untuk satu siklus berkisar 30-35%. Angka ini akan meningkat jika tindakan IVF diulang 2 kali.



Dokter, saya wanita 27 tahun, sudah menikah selama 2 tahun. Sudah dilakukan HSG (kesan: kedua tuba paten, uterus bikornus dan fleksi) dan pemeriksaan hormon pada hr ke 4 siklus menstruasi dengan hasil LH 3.27, FSH 6.07, estradiol 46.45, dan prolactin 41,60. Kira2 adakah kelainan pada HSG dan hormon saya? Apakah kadar prolaktin 41.60 tergolong sangat tinggi sehingga menyebabkan infertilitas?
Demikian dari saya, atas responsnya saya ucapkan terima kasih banyak