Seorang kakek tua penjual pisang keliling tersungkur
tepat di seberang Pasar Swalayan Carefour Lebak Bulus
Demikian suatu berita di pojok salah satu halaman Kompas kemarin
Banyak orang yang berseliweran
tak ada yang perduli
tak ada yang menoleh
Dia hanyalah seorang laki2 penjual pisang yang mungkin tidak dianggap penting
sehingga kita tidak memerlukan waktu untuk sekedar menyapanya atau memapahnya
Dia tetap beribadah puasa sambil berjualan
Disaat kita sibuk ngabuburit ke mal mewah harum dan dingin dengan penyejuk udara
dia menjalani ngabuburit dengan berjualan pisang keliling
terpanggang matahari
berjalan kaki puluhan kilometer
tidak mengenal lelah
tidak mengeluh kehausan dan kelaparan
karena mungkin haus dan lapar adalah sahabat sehari2nya
kemana sajakah saya selama ini ?
Saya bahkan tidak mengenalnya
dan mungkin tidak perduli padanya jika bertemu dijalan
saat dia menjajakan pisangnya
Mungkin saya akan menggelengkan kepala saat dia menawarkan pisangnya
sementara tangan kanan saya membuka kaca mobil dan memberikan uang recehan pada peminta minta
Padahal dia mengatakan, ” saya tidak mau meminta minta, saya lebih suka jualan ”
Betapa terhormatnya dia
dan saya tidak perduli padanya,
saya bahkan mungkin tidak pernah terfikir untuk bertanya berapa penghasilannya sehari
selama dia mengukur jalanan dijakarta yang berdebu dan panas di bulan Ramadhan ini
Seharusnya saya mengangkat topi untuknya
Disaat saya mengeluh kepanasan saat AC di kantor tidak sejuk seperti biasanya
dia tetap berada dijalan yang panas
tersungkur beberapa kali karena keletihan
atau mungkin dehidrasi
atau tidak ada lagi energi yang tersisa dari sahurnya semalam
lalu saya membayangkan dia berbuka dari pisang2nya yang tidak terjual
dan sahur dari sisa pisang2nya itu
sementara saya masih saja mengomel jika lauk dirumah tidak bervariasi
membosankan dan tidak berselera
lalu saya akan pergi ke resto mewah
sekedar memanjakan pencernaan saya,
yang sebenarnya berteriak kegirangan karena diberi istirahat di bulan puasa ini
padahal pencernaan saya juga tidak membutuhkan makanan mewah lezat
padahal yang diperlukan pencernaan saya hanya yang cukup dan bergizi saja
Sementara si laki2 tua penjual pisang mungkin untuk mendapatkan yang cukup saja kesulitan
apalagi yang bergizi
Dia berkeliling kompleks perumahan mewah
dan setelah 5 blok baru dia dapatkan pembeli
hanya berapa rupiah yang terbayar
dari hasil keringatnya berjalan puluhan kilometer
saat berpuasa
di hari yang terik dan membakar
Sementara saya membeli kenyamanan berbelanja di hipermarket mewah dengan penyejuk udara
dibanding harus berdesak2an dipasar traditional
dan menawar dengan sengit sampai titik darah penghabisan
pada tukang sayur keliling
sementara saya membeli sayuran dihipermarket mewah tanpa menawar
padahal selisihnya mungkin lebih tinggi dibanding penawaran saya pada situkang sayur keliling
Pantaskah saya mendapatkan pahala berpuasa di bulan yang suci ini lebih tinggi darinya ?
Dari si laki2 tua penjual pisang yang terjatuh berkali kali karena kelelahan
yang lebih suka berjalan kaki puluhan kilometer untuk mencari nafkah buat keluarganya dengan halal
dibanding menjadi pememinta minta ?
Apakah saya masih pantas menjadi hambaMU ya Rabbi ?
sementara saya masih saja tidak perduli
ada saudara saudara saya yang tersungkur beberapa kali karena kehausan kelaparan dan keletihan
menjalani ibadah di bulan suciMU ?
Pantaskah saya mengaku orang baik berhati mulia
karena saya menjalani puasa dengan membongkar lemari dan menemukan Alqur’an yang berdebu karena setahun tidak disentuh
dan berjuang mati2an untuk bisa khatam dibulan ini
lalu setahun kemudian terlupakan lagi
kembali berdebu di pojok lemari buku
Sementara dia mungkin tidak punya waktu untuk mengaji
karena harus berjalan puluhan kilometer menjajakan pisang2nya
di bulan puasa yang terik dan membakar ?
Sungguh, Ya Rabbi
Saya malu padanya
Saya malu jika nanti saya bertemu dengannya dihari perhitunganMU
dan mendapatkan timbangan amal saya sungguh sangat ringan dibanding dengannya
Sungguh saya malu
pada orang2 terhormat seperti dia
yang tidak pernah mencuri uang rakyat
demi memanjakan pencernaan yang sebenarnya menolak untuk dimanjakan
demi memanjakan keinginan nafsu duniawi
yang dalam sekejap akan hilang
Saya malu padaMU, Ya Rabbi
ternyata saya belum menjadi hambaMu yang perduli….
Jakarta, 3 September 2009



Dear Bote, rasa malu dan menyesal adalah tanda Tuhan sedang membangunkan hati nurani kita. Alangkah beruntung kita jika mengalaminya. Ramadhan yang suci selalu mendatangkan berkah dalam berbagai wujud. It is so wonderful, isn’t it? Praise Allah, the Beneficent, the Merciful.
Dear Bote, rasa malu dan menyesal adalah tanda Tuhan sedang membangunkan hati nurani kita. Alangkah beruntung kita jika mengalaminya. Ramadhan, bulan yang berwajah penuh keredaan, tak pernah alpa melahirkan berkah dalam berbagai wujud. Praise Allah, the Beneficent, the Merciful.
Dear Bote, I am so depressing now and misunderstanding about the universe…… maybe until next month. Thanks, you wrote a very long words. Best Regard, indra.
dokter bote baca di kompas juga ya? aku nangis tuh waktu baca beritu itu. besok2nya beli pisang di stasiun depok baru gak pake nawar n rasanya itu pun jauh dari merasa sudah cukup membantu…
hi das ist ja mal wirklich schön, weiter so ich werde noch zum Stammleser hier ;-)
thanks banget buat renungan penggugah hatinya….
sungguh menggugah….