dr. Botefilia Arjunadi SpOG, Spesialis Obstetri dan Ginekologi. Dokter Kandungan Perempuan, RSP - Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, RSIA Tambak, Rumah Sakit Tria Dipa. Senam Kehamilan dan Sex. Melahirkan secara normal. Prematur. Partus (Melahirkan) Persalinan normal Partus Normal
29 Jan 2010 Sepiring Spagheti untuk hati Gayatri
 |  Category: Cerpen2 Bote

Aku mendekap dadaku, dan berlari-lari kecil melintasi koridor rumah sakit melewati gerimis. Malam begitu dingin.
Dan hatiku begitu dingin, mendung dan gerimis, mungkin sudah hujan sekarang.
Betapa seringnya aku melewati rasa ini. Rasa yang membuatku seakan kaku dan lebam seperti mayat.
Betapa seringnya aku meneteskan airmata karena rasa ini, rasa cemburu yang tidak beralasan.
Betapa inginnya kusudahi saja semua ini, dan terbebas dari segala sikap posesifku yang memenuhi seluruh rongga di jiwaku.
aku semakin mendekapkan ke-2 tanganku ke dadaku, berusaha menekan rasa sakit ini, tapi tidak juga mau pergi.
Berusaha keras agar airmata ini tidak sampai tumpah ruah lagi, dan membuat mataku bengkak.
Tapi kelenjar airmataku tidak pernah mau mengerti dengan hatiku, selalu saja dia membiarkan pintunya terbuka, dan aliran bening ini kembali membasahi bola mataku.
Ya Allah,Kenapa ENGKAU menciptakan cinta dan cemburu seperti sepasang kekasih, begitu dekat dan saling mendekap ?

Dr. Ritha, asistenku, menyambutku di pintu kamar bersalin.
Sekilas dia terdiam, mungkin melihat mataku yang agak sembab.
” Malam, dok. Pasien datang 30 menit lalu dengan perdarahan banyak, denyut jantung janin sudah tidak ada. Sebelumnya dia merasakan nyeri yang hebat dirumah bidan.
Bekas caesar 2x. ” lapornya. Aku mengernyitkan alis, “Bekas SC 2x dan ketempat bidan? ANC dimana ?”
” Bidannya sudah menyuruhnya ke RS, tapi dia terus menolak. Bidan rencana akan membawanya kesini besok pagi.”

“ Ruptur uteri ?” Dia mengangguk
” Sudah disiapkan kamar operasinya ? Dokter anestesi ?”
” Semua sudah siap, dok. Dr. Fathur sudah datang juga, dia langsung datang begitu tau konsulen sendiri yang operasi.
Dan dia begitu bersemangat datang, waktu tau konsulennya dr. Gayatri….” dr. Ritha mengedipkan sebelah matanya padaku.
Brengsek. Gosip memang gampang banget menembus dinding demi dinding di RS ini.

Aku menemui suami pasien. Dia tampak pucat dan sedih. Duduk diam diruang ini dengan mata yang kosong menerawang.
Aku memperkenalkan diriku dan berusaha menjelaskan perjalanan penyakit sang istri.
Bekas caesar 2x dan tidak ada anak hidup. SC pertama karena perdarahan plasenta previa, plasenta yang menutupi jalan lahir.
Kehamilannya belum cukup umur, bayinya lahir 1200 gr, dan meninggal 3 hari kemudian. SC ke-2 karena lewat waktu, dan dia tetap ingin coba lahir biasa.
Dia menghilang dan tidak mau periksa, sampai akhirnya datang dengan janinnya dalam kondisi hipoksia yang berat karena insufisiensi plasenta.
Di caesar kembali, dan bertahan hidup 2 hari akibat mekonium aspirasi sindroma, yang sering disebut orang awam dengan terminum air ketuban. Air ketubannya sudah hijau dan kental.
Dan sekarang, lagi2 dia takut untuk dioperasi, karena tau harus operasi lagi yang berikutnya.
Dia hanya periksa hamil 2x di bidan, dan menghilang lagi. Padahal bekas SC 2x !
Sayangnya dia tidak mendapatkan penyuluhan yang benar dan dari orang yang tepat, untuk pengetahuan medisnya.
Sekarang mengalami ruptura uteri, pecahnya rahim. Bayinya sudah menjadi meninggal, dan mimpi buruk mungkin mengikutinya.
Perdarahan banyak, syok hipovolemik, membuat kematian begitu dekat menghampirinya.

Suaminya menangis mendengar penjelasanku, bahwa mungkin rahim istrinya harus diangkat untuk menyelamatkan jiwanya.
Dia memegang tanganku, ” Apapun, lakukanlah yang terbaik untuk istri saya, agar dia bisa selamat, dokter. Tidak mengapa saya tidak mempunyai keturunan, Tapi tolong selamatkan dia.
Saya mungkin jarang berbuat baik padanya, tapi saya tidak ingin kehilangannya. Saya baru menyadari betapa tidak bersyukurnya saya selama ini mempunyai istri sebaik dia…..
Tolonglah dokter….tolong selamatkan istri saya…”
Air mataku ikut menetes….dan memegang erat tangannya dan mengangguk,”Insya Allah, saya akan berusaha sebaik2nya. Bantu doa ya Pak..”

Operasi berjalan mulus, rahimnya sudah robek compang camping, dan terpaksa harus diangkat. Tapi kondisi pasien mulai stabil.
Aku memandang wajah polosnya….., betapa beruntungnya dirimu, nyonya…mempunyai suami yang meneteskan airmata untuk memohon kesembuhanmu.
Mataku mulai terasa panas, dan kucoba menahan rasa ini sekuat tenaga.

Aku menuliskan laporan operasi, jam menunjukkan pukul 6 pagi. Aku harus pulang dulu, mandi dan kembali kesini jam 8.
” Hai, Cantik,” suara Fathur, si dokter anestesi tampan dan flamboyan itu menggema di ruang operasi. Membuat para perawat dan dokter asisten tersenyum simpul.
Aku mengangkat alis, dan memandang wajah tampannya.
” Sarapan bareng yuuukk….” katanya. Aku tersenyum, ” Aku mau sarapan dirumah ”
” Aku ikut yaaa kerumahmu, merasakan masakanmu yang katanya lezat itu…” pintanya dengan mimik yang lucu. Heran deh, orang ini tidak pernah kapok mengajak aku makan bareng, meskipun berulang kali aku tolak.
” Kenapa ? istrimu atit peyut dan tidak bisa bikin sarapan ?”
” Hahahaha…..” dia tertawa mendengar jawabanku, ” Tidak ada Khrisna kan dirumah ? aku tahu dia sedang dalam perjalanan ke Banjarmasin, dengan proyek rumah sakit amalnya itu.”
” Ada atau nggak ada dia, aku tetap tidak mau kalo cuma sarapan berdua, kecuali, kamu ajak seisi ruang ini….”
” Duuuuhhhh….aku patah hati terus nih… tidak pernah bisa ngajak kamu makan berdua ? kenapa sih ? Di kehidupan modern ini, apalagi di Jakarta… biasa aja lageee kalo makan berdua bagai sepasang kekasih… haahahaha…”
” Duuuuuhhhh…aku mau pup nih denger kata2 indahmu…. terima kasih banyak… aku tidak mau kalo cuma berdua. Titik.”
” Kenapa sih ? Takut ketahuan Khrisna ? dia juga mungkin sedang sarapan bareng Femy di Bandara…” dia melirikku dengan nakal..
Seketika darah seakan berhenti mengalir di tubuhku. Femy, dokter bedah cantik, yang katanya dulu sempat naksir2an dengan suamiku waktu kuliah.
Setan ditelinga kiriku berbisik, ” Ayolah….cuma sarapan kok… jangan geer dulu deh…”
Tapi malaikat ditelinga kananku, membelai lembut, ” Kamu harus menjaga amanahmu sebagai istri…”
Aku menghela nafas panjang, dan menjawab, ” Kalaupun dia sarapan bareng dengan perempuan manapun, itu adalah urusannya dengan Tuhannya. Bukan urusanku.”
Hhhhh….hebat aku bisa berkata bijak, dalam kecemburuan yang menggelora.
Fathur berbisik lagi, ” Aku tidak akan menggigitmu, paling gemes pengen cubit pipi ranummu….hahaha…” Aku melempar pulpen ditanganku kearahnya dengan jengkel.
Siapa yang tidak kenal si dokter tampan yang doyan tebar pesona kemana-mana ini. Cuma denganku dia tidak pernah berhasil.
Jakarta, begitu permissifnya kah kehidupan disini ? Aku jadi rindu dengan kampung halamanku yang teduh di Sleman.

************

Sebelum pulang, aku melintasi ruang perawatan. Dan aku tak mau melepas momen yang paling aku sukai, mengintip kamar salah seorang pasien favoritku, yang sering menginspirasi aku.

Laki2 tua itu duduk di tepi pembaringan, mengaji. Istrinya masih tertidur. Wajah2 tua yang ikhlas. Aku memandangi mereka cukup lama, sampai rasa haru menyelimuti hatiku kembali. Aku teringat percakapan 2 minggu lalu dengan sang suami.

Istrinya menderita Kanker Ovarium. Anak mereka hanya 1, itupun meninggal 10 tahun lalu di hutan Kalimantan tempatnya bertugas. Mereka hanya tinggal berdua. Tidak pernah kulihat tatapan penuh cinta yang selalu terpancar dari mereka berdua saat saling menatap, kutemukan pada pasangan2 tua lain. Pada umumnya mereka hanya seperti bersaudara saat tua. Dan itu yang selalu kudengar. Dan itu yang selalu terpatri di otak anak2 mereka, dan kemudian siklus itupun berulang lagi.

Tapi Bapak dan Ibu Dibyo, begitu berbeda.

“Sewaktu jaman kami masih muda, tidak ada cinta yang menggebu2 sebelum menikah. Karena kami dipingit, dan jarang bisa pergi berdua. Rasa cinta itu tumbuh pelan2 saat menikah. Saya juga heran, kalau banyak anak2 muda sekarang, cepat sekali menolak jika ingin dijodohkan. Padahal maksud orang tua pasti baik.” Itu awal mula percakapan kami.

“Istri saya telah merawat saya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Cinta kami semakin kuat setelah menikah. Dia selalu tersenyum dalam kesusahan kami. Entah kesusahan materi, atau problema apa saja yang tiba2 terjadi didepan mata. Sebuah rumah tangga, bagaikan kapal, dengan 1 nakhoda. Kapal itu tidak diciptakan hanya untuk melalui lautan yang tenang dan berlabuh. Tapi diciptakan untuk menempuh badai yang dapat terjadi sewaktu waktu dalam perjalanannya…..”

Aku merenungi kata2 bijaknya. Dan meneteskan airmata. Baru gelombang kecil saja, aku sudah goyah.

“ Jika terlalu banyak orang yang ingin menjadi nakhoda, bayangkan betapa sulitnya kapal itu menjalani keinginan banyak kepala. Tapi jika penumpangnya hanya memberikan saran, men-support dan berdoa. Nakhoda akan lebih tenang menguasai kapalnya, supaya tidak hancur didera badai….”

“ Saat istri sakit, saya ikut merasakan sakitnya. Saat dia menjerit, saya merasakan pedihnya. Saat dia menangis, saya berdoa, biarkan saya saja yang menanggung rasa sakitnya, agar airmatanya tidak perlu keluar….

Pada saat dia sehat saja, saya tidak mampu mencari cinta lain diluar… apalagi saat dia sakit….”

Padahal Pak Dibyo adalah direktur sebuah perusahaan multinasional. Masih gagah dan tampan untuk laki2 seusianya. Kadang2 aku ingin bertanya pada istrinya, “Doa apa yang selalu dipanjatkannya kepada Allah, sehingga Allah menganugerahkan suami yang begitu sempurna untuknya,  ?”

Suatu sore, bu Dibyo memegang tanganku, yang akan meninggalkan tempat tidurnya, setelah cukup lama memandangi wajah ikhlas yang sedang tertidur itu. Aku pikir dia masih tidur….

“Dokter, jangan khawatir, seorang perempuan yang baik pasti akan mendapatkan laki2 yang baik….., sempurnakan lah diri kita menjadi perempuan yang baik dimataNYA… dan DIA akan menganugerahkan suami yang sempurna untuk kita…”

Mataku berkaca-kaca…..sudah sempurnakah aku ? sudah baik kah aku dimataNYA ?

**********

Khrisna, Dokter Penyakit Dalam di RS yang terpisah denganku. Dia lulusan Fakultas Kedokteran Negeri di Jakarta. Supel, Charming, dan begitu disayang teman2nya.
Kadang aku tidak tahan dengan pergaulannya yang supel. Aku cuma gadis biasa dari desa, yang beruntung bisa mengenyam pendidikan spesialis di Jakarta. Meskipun asal kedokteran umumku dari daerah.

Kami bertemu dalam suasana yang tidak begitu kondusif. Saat itu konferensi kematian pasien, dan dia ikut diundang bersama konsulennya sebagai narasumber kasus itu. Saat itu kami masih sama2 sekolah spesialisasi, dan masih sama2 lajang.

Suasana begitu ribut dan mulai saling menyalahkan.

Khrisna yang tadinya hanya mendampingi, dan tidak banyak bicara. Tiba2 menengahi dengan arif dan bijaksana. Suaranya begitu menenangkan hati yang panas. Ilmunya luar biasa untuk setahap dia. Dan aku memandangnya dengan kagum.

Aku terus menatapnya, sampai tiba2 dia memalingkan wajahnya dan menatapku. Tidak pernah aku merasakan chemistry yang begitu kuat seperti saat itu. Kami saling menatap dalam waktu yang cukup lama, sampai2 sebagian dari yang hadir ikut terpana melihat kami. Carolin, menyikutku. Baru aku menyadari kebodohanku, dan tersipu malu.

Beberapa konsulen tertawa kecil dan meledek Khrisna….” Masih single kok Khris….cakep lagi…haha..”

Setelah selesai konferensi aku tidak mau lagi melihatnya dan buru2 melanjutkan pekerjaanku.

Sejak itu, aku tau dia sering memperhatikan aku.

Dia, tampan, charming, supel, dan begitu disayang teman2nya, tapi tidak juga menemukan jodohnya, sampai sudah mau selesai spesialisasi internanya. Sehingga banyak yang men-support kami, saat tahu dia mulai menyukai aku.

Aku sendiri ?

Aku sudah jatuh cinta saat pertama kali memandangnya !! dan sempat terlintas doa dalam hatiku. Ya, Allah, betapa bahagianya, kalau saja dia yang KAU kirimkan untuk jodohku.

Padahal aku begitu sulit jatuh cinta biasanya.

*********
Aku beruntung diminta jadi staf di RS terbaik di Ibukota. Kami sudah menikah 5 tahun, dan belum dikaruniai anak. Dan selama 5 tahun aku masih saja mudah terbakar api cemburu.

Sudah satu minggu ini hubungan kami dingin, akibat dia minta izin untuk mengurus proyek RS amal di Banjarmasin dengan teman2 kuliahnya di FK. Dan aku begitu berat melepasnya. Tidak tahu kenapa.
Aku tidak menyetujuinya, dan kami sempat bertengkar untuk masalah ini.
Tadi malam aku melihatnya mengemasi pakaian di koper. Hatiku bertambah sakit. Dia tidak perduli dengan perasaanku. Dia tidak menjaga perasaanku dengan baik.
Aku lelah merasa cemburu, dan semalam aku menguatkan hatiku. Jika nanti dia kembali dari Banjar, aku akan meminta berpisah saja mungkin….. aku kembali menangis sambil mengendarai mobilku.

Sampai dirumah, rasa lapar dan lelah langsung hilang mencium aroma yang harum dari ruang makan… Si Mbok tumben …
Aku terpana melihat makanan di meja makan yang sudah terhidang…. Spagheti salmon lada hitam dan teh mint kesukaanku. Si Mbok ??

Sepasang tangan kekar dan hangat memelukku dari belakang.
” Pasti lapar kan ? ”
Aku membalikkan tubuhku dan memandangnya tak percaya….” Kamu…?”
Dia mencium bibirku hangat, dan menghapus airmata yang menetes tiba2….
” Aku membatalkan perjalananku…. sudah kufikirkan semalaman…” dia memeluk dan membelai rambutku…
“Apalah artinya proyek rumah sakit amal itu dibandingkan dengan dirimu, bidadariku ?”
Air mataku semakin deras mengalir……
” tahukah kamu, aku juga sering dihinggapi rasa cemburu, jika teman2mu bercerita, betapa beruntungnya aku memilikimu, perempuan berhati bidadari, yang baik dan penyayang, dan disayangi pasien2nya. Selalu care dengan siapa saja…
Dan tahukan kamu, aku juga sering cemburu, mendengar teman2 dokter di RS mu yang suka menggodamu,”
Dia mengangkat wajahku, dan mengecup keningku….” Tapi aku percaya, cinta putih membutuhkan rasa untuk saling percaya dan menjaga….”

Aku mendekapnya erat dan bersyukur padaNYA. Kesejukan pagi ini menyejukkan ruang hatiku. Warna warni pelangi seakan bersinar setelah hujan berhenti.
Terima kasih ya Allah, untuk hadiah pagi ini. Ternyata membahagiakan orang lain dengan menolong istrinya, menghadiahkan rasa yang luar biasa indah .

Jakarta, 29 Januari 2010

Email This Post Email This Post Print This Post Print This Post
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
11 Responses
  1. ina says:

    oh begitu lanjutannya…sip deh bote…kutunggu ya cerita2 lainnya..:)…boleh dishare gak?

  2. Hans says:

    Kl mau share ke Facebook udah disediakan linknya…tinggal klik iconnya :)

  3. Yeni says:

    Wah subhanaLlah.. Endingnya manis banget dok, sampe berkaca2.. :) smg kita bisa menjadi istri terbaik ya dok.. *masih inget saya dok? :)

    • bote says:

      Dear Yeni,
      Hmmmm…..Yeni, yang manakah dikau… ?
      ayo dong, clue-nya apa ? temen, pasien atau sahabat lama ?
      Makasih yaaa….atas komentarnya
      Semoga kita semua bisa menjadi istri yang terbaik… Amin

  4. boneth says:

    aku sempet ngira ini sebuah cerpen..
    krna nama tokohnya koq kyknya “keren dan ke-india-india-an’
    hehehehe

    ternyata …..

    wahhh… keren bangettt…

    tapi soal cemburu, kyknya rasa itu nyebelin bangettt yahh??!!
    hihihihi..
    pengalaman jg soalnya..

    -salam kenal dok-

    • bote says:

      Haiii…Boneth, salam kenal juga…
      ini memang cerpen kok…bukan true story… :)
      Saya juga heran, setiap saya bikin cerpen, sering disangka true story….
      mungkin karena tidak terasa asing, seperti berada dilingkungan kita sendiri kejadiannya…

      Saya baru sadar, kalau namanya memang keindia2-an … :D
      Cemburu….hmmm…manusiawi banget yaaa…
      Cinta dan cemburu seperti sepasang kekasih, saling dekat dan mendekap !
      Wow..

  5. Yeni says:

    Assalamu’alaikum dr.Bote.. :)

    Dok, saya Yeni yang dulu pernah wawancara dokter untuk Majalah Dokter Kita. Saya sekarang sudah tdk di majalah lagi Dok, sekarang sedang PTT di daerah sangat terpencil di Bengkulu.. insyaAllah awal april besok selesai masa bakti.

    duh Dok.. di tempat saya case OGnya banyak nian, mayoritas disebabkan psikokultural warga dusun yang dukun-minded.. semua berawal di dukun, tapi harus berakhir di tangan dokter… :( hehe jadi curcol gini.. :)

    gara2 banyak case OG, jadi terlintas pengen ndalemin OG juga kayak dr.Bote. tapi bakal berat ngga ya dok njalaninnya?? ayo dok kasih saya semangat.. :D

    trims ya dok, salut sama tulisan2nya :)
    wassalam

    • bote says:

      WaalaikumSalam wr. wb… Yeni cantik…
      Masih inget dong :)
      Ayoooo semangat… tidak seberat yang dibayangkan kok…
      Insya Allah, amanahnya berkah… :)
      Terima kasih, untuk saling ngingetin aja…

      Wass
      salam sayang,
      Bote

  6. cici says:

    bagus bgt Dok ceritanya…..

    makasih untuk cerita2 penuh dengan pelajaran hidup…

    ijin share di facebook ya Dok….

  7. Raffiq says:

    Kisah yang menarik, sebuah kisah yang bisa diambl hikmahnya. Sungguh, terkadang lewat sebuah perkataan tidak mengena, namun jika diutarakan dalam sebuah kisah sedikit mengetuk hati. Mohon share Pak….sebagai renungan pribadi, keluarga dan para sahabat. Sebelum dan sesudahnya terima kasih

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:wink: :twisted: :roll: :oops: :mrgreen: :lol: :idea: :evil: :cry: :arrow: :D :?: :-| :-x :-o :-P :-? :) :( :!: 8-O 8)