dr. Botefilia Arjunadi SpOG, Spesialis Obstetri dan Ginekologi. Dokter Kandungan Perempuan, RSP - Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, RSIA Tambak, Rumah Sakit Tria Dipa. Senam Kehamilan dan Sex. Melahirkan secara normal. Prematur. Partus (Melahirkan) Persalinan normal Partus Normal
28 Mar 2011 BICARA
 |  Category: Goresan pena

Apa sih susahnya bicara ? kenapa saya jadi pengen ngomongin tentang hal yang satu ini ya?

ciprofloxacin er dosing

Baru saya sadari, “bicara” itu bukan suatu hal yang mudah, apalagi buat orang2 yang sedang ada masalah.

Pernah dengar kan kalimat ini, “ Diam itu emas” atau kalimat ini, “ Bicara yang baik2 saja atau diam”

Entah kenapa, akhir2 ini banyak kejadian disekitar saya, yang justru masalahnya semakin besar dan berat, karena “Diam”

Dan saya menjadi tidak setuju dengan ke-2 kalimat mutiara diatas.

Saya bukan tipe orang yang senang berdebat, bahkan untuk hal yang prinsip. Jadi saya memang lebih suka diam, kalau orang2 mulai berdebat dan suasana menjadi panas. Teman2 saya protes, “Ayo dong bicara, kamu kan juga gak setuju”. Dan biasanya saya cuma senyum, dan bilang “ Males ah, rame2”

Toh, Orang lain juga udah tau kok prinsip saya, kalau mereka mau tidak setuju, silahkan saja. Hidup ini kan pilihan. Begitu selalu alasan saya. Dulu, Saya penggemar berat kalimat mutiara diatas.

Begitu juga kalau saya tidak setuju dengan sikap atau pandangan pasangan saya, atau sahabat saya. Daripada ribut, diam aja ah. Nanti juga baik sendiri. Tapi ternyata saya bukan orang yang ikhlas, kalau ada masalah lagi, masalah sebelumnya yang saya pendam karena saya ingin “diam”, mencuat kembali.

Nah kan, jadi “Diam itu emas” bagus kah ? bagus dong tentunya, tapi harus lihat juga suasananya. Tapi lebih bagus lagi “Bicara”!

“Bicara” dan ungkapkan seluruh perasaanmu, keinginanmu, harapanmu. Tapi dalan suasana yang tenang dan kondusif.  Kalau amarah sedang memenuhi hatimu, diam dulu, atau ambil wudhu, seperti yang Rasulullah ajarkan. Kemudian “bicara”…. Jangan “Diam” karena diam hanya akan menciptakan suatu bom waktu.

Seorang sahabat dan pasangannya sedang dalam masalah, dia tidak perlu bercerita tentang masalahnya, saya sudah memahaminya. Dan saya menjadi benci dengan kata “Diam” karena mereka semakin menjauh, karena sama2 “diam”. Jika yang satu ada, yang lain menjauh, begitu juga sebaliknya. Kenapa sih tidak “bicara”?.

“Bicara” akan menjadi medan pertempuran, katanya. Saling menyerang, saling menyalahkan, solusi menjadi susah ditemukan.

Akhirnya datang orang ke-3, yang bisa meluluhlantakkan hati. Taukah bagaimana rasanya ketika hujan meskipun gerimis, membasahi tanah yang gersang ?

Ini berulang2 terjadi disekitar kita. Dan ketika benang merahnya di capai, lagi2 biang keroknya adalah “Diam!”

Saya jadi ingat filmnya Meg Ryan yang baru 2 canada viagra generic minggu lalu ditonton karena lagi iseng2 nungguin pasien yang mau lahir, saya juga heran, padahal saya adalah penggemar beratnya Meg Ryan, tapi belum pernah nonton film yang satu ini. Judulnya “Serious Moonlight (2009)”.

Banyak “take home message” dari film ini, yang menginspirasi saya menulis tentang “Bicara” ini.

Karena tidak pernah bicara, dan menerima saja kelakuan pasangannya meskipun tidak ikhlas, membuat perkawinan mereka jadi hambar. Film komedi yang menawan. Penuh pesan. Dan “Happy ending”…. *Beda banget dengan cerpen2 saya yang take home message-nya selalu Sad ending, dengan alasan supaya maknyus, kena di hati !

Jadi, bagaimana kalau sekarang kita mulai berlatih untuk “bicara” keluarkan uneg2, apapun yang mengganjal, tapi berlatihlah untuk “bicara” bukan “marah2” atau “ngomel”. Tapi bicara yang manis, dan akhiri dengan kata2 yang menunjukkan “perasaanmu”…. Kalau kamu kangen yaaa jangan ragu dong bilang “Miss U” dan kalau kamu cinta mentok, bilang dong “I love U”

Saya sangat percaya, Jika setan mengerahkan ribuan anak buahnya untuk terus menerus menggoda pasangan2 supaya berpisah, Allah juga akan mengerahkan jutaan malaikatnya untuk menjaga hati pasangan2 itu.

Untuk seorang sahabat yang saya sayangi….

Jakarta, 28 maret 2011

Botefilia

Email This Post Email This Post Print This Post Print This Post
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
8 Responses
  1. santi says:

    Untuk bicara baik-baik perlu dua orang yang sangat mampu mengkontrol diri dan memang mempunyai niat baik untuk memperbaiki hubungan. Ketenangan tidak dapat dituntut hanya dari sebelah pihak. Sangat sulit untuk mengungkapkan rasa sakit hati tanpa membuat pasangan kita terpojok. Dibutuhkan energy yang luar biasa besar untuk menekan rasa sakit yang muncul setiap kita mengulang cerita yang membuat kita terluka dan untuk memilih dan memilah kata-kata yang manis.

    Saya sangat setuju bahwa bicara itu perlu, karena saya memang tipe yang ekstrovert. Diskusi menjadi enak kalo pasangan kita juga seorang yang ekstrovert. Nah bagaimana kalo kita mempunyai pasangan yang introvert ??

    Saya tau persis rasanya berbicara baik-baik dengan pasangan yang introvert. segala gundah gulana sudah disampaikan dengan baik-baik dan manis, segala perasaan terhadapnya juga sudah dikeluarkan…. tapi resposnya hanya diam seribu rasa…. efek balik yang dirasakan saat itu adalah saya merasa menjadi “blow fish” yang menggelembung siap meledak kapan saja.

    Saya menemukan cara, saya bicara lewat email, saya keluarkan semua unek-unek saya yang tentunya dengan bahasa yang saya sudah edit berkali-kali agar tidak menyinggung. Saya ungkapkan perasaan saya, dengan note terakhir kalo memang sudah siap berbicara silahkan hubungi saya atau cukup balas lewat email. Kemudian saya tinggalkan dia sendiri, saya tidak pernah menelpon ataupun kirim SMS.

    Cukup lama saya menunggu, ternyata saya mendapat balasan email, ternyata di dalam tulisan dia mampu mengeluarkan segala keluh kesahnya dan mampu mengungkapkan perasaannya terhadap saya. Sungguh sangat surprise membacanya, tidak pernah terpikir dia mampu berbicara seperti itu.

    Intinya adalah, bicara tidak perlu berhadapan muka, dikala kita sedang terluka atau marah. Dan ternyata sikap diam juga dibutuhkan untuk memberikan ruang kepada pasangan kita. Hal ini mudah buat saya karena kami memang belum menikah. Menjadi sulit untuk pasangan yang menikah.

    Bote yang selalu “diam” ketika ada masalah, mulai merasakan perlunya berbicara. Sedangkan saya yang selalu “bicara” ketika ada masalah, merasakan ada saatnya kita harus “diam”.

    Yang paling penting saat kita mau berbicara, adalah kita sudah siap dan ikhlas untuk mendapatkan jawaban yang terburuk dan rela menerimanya. Ketenangan akan datang dengan sendirinya, dan subhanallah respons yang kita terima sungguh diluar dugaan.

    Untuk sahabatku yang saya sayangi

    jakarta 29 maret 2011

    santi

  2. wely sutanto says:

    Bagi saya bicara adalah suatu yg bersifat naluriah,bicara adakalanya diperlukan batin adaperlunya tidak.sesuatu yg tidak sesuai dengan batin kita haruslah dibicarakan semua itu butuh proses dan imaginasi,kekuatan nurani dan pikiran yg membuat kita selalu ingin mengungkapkan keinginan kita.

  3. ira says:

    dokter bote… Apa kabar…????
    mungkin dokter gak inget aku.. tapi aku pasti inget dokter. Kan anak pertamaku lahir dibantu dokter, di RSIA Tambak… 4 juni 2006. Waktu itu dokter lagi hamil juga, 7 bulan deh kayaknya…
    sekarang Adilia udah 5 tahun, baru mau masuk TK… her first school… hehhehe..better late than too early kata ibunya…:D

  4. nia says:

    Setuju Bote…bicara.. komunikasi..keluarkan isi hati…spt yang dianjurkan oleh Rasulullah saw…dengan cara yg terbaik…bersahabat n penuh kasih… :)

  5. bayi says:

    Kapan dokter bicara lagi lewat tulisan? Kangen!!
    Happy belated b’day!

  6. Efri Rangkuti says:

    Well, sometimes people said berbicara lebih baik dari pada diam and the other way around.tapi I do agree bicara itu penting karena no body knows what is inside your mind, its only you and your god knows about it. tapi yang penting dalam berbicara ialah bukan:

    1. Orde Jawaban dari pertanyaan
    2. mencari menag atau kalah, memangnya sekolah kalo menang ada yang dapet hadiah atau naik keals sedangkan yang kalah turun kelas dan gak dapet hadiah?
    3. Benar dan salah itu adalah posisi dan sangat dinamis. Benar dan salah hanya persepsi manusia dan tuhan yang tau mana benar atau salah.
    4. Niat berbicara buat apa? bair di anggap jago or hebat? thats wrong, berbicara hanya untuk menyampaikan pendapat dan apabila berbeda denga orang lain ya wajar toh, namanya juga beda. kalo sama semua namaya sama bukan beda*loh? :)

    sedikit pendapat yang tidak penting :)

    Efri

  7. diam itu emas, kebanyakan diam itu emas-emas. hehehee. memang lah kita berbicara seperlu nya saja, jangan sampe terjadi “mulutmu harimaumu” :)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:wink: :twisted: :roll: :oops: :mrgreen: :lol: :idea: :evil: :cry: :arrow: :D :?: :-| :-x :-o :-P :-? :) :( :!: 8-O 8)