dr. Botefilia Arjunadi SpOG, Spesialis Obstetri dan Ginekologi. Dokter Kandungan Perempuan, RSP - Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, RSIA Tambak, Rumah Sakit Tria Dipa. Senam Kehamilan dan Sex. Melahirkan secara normal. Prematur. Partus (Melahirkan) Persalinan normal Partus Normal
10 Oct 2012 10.10.10
 |  Category: Gado-gado

TANGANtua mama yang lembut, halus, dan keriput menggapai lenganku yang asyik menulis di notebook di sisi pembaringan.

“Mama ingin pulang….ke rumah, Chacha,” pintanya lembut. Suara mama selalu lembut dan menyejukkan hati. Aku melirik jam tangan, pukul 15.00 WIB. Aku mengusap tangannya, “Besok saja ya, Ma…. Baru selesai 3 jam kemoterapinya…. Mama tidak mual dan pusing?”

“Mama ingin pulang sekarang, nanti malam Mama ingin mendengar denting pianomu…”

Aku melihat kalender di dinding kamar rumah sakit ini. 10 Oktober. Kuhela nafasku …dan menatap wajah tuanya, “Mama …. haruskah?”

Dia mengangguk, “Mama ingin pulang malam ini. Kalau tidak kuat, besok Mama mau kok dirawat lagi…”

“Tidak bisakah kita melewati malam ini di RS, Ma? Satu kali saja dalam hidup Mama, 10 Oktober di tempat yang berbeda….kita bisa mendengarkan lagu love story itu dari note-book, tidak perlu aku yang memainkan piano atau Mama yang memainkan piano…” Mama kembali menggeleng. “Mama ingin pulang…..”

Aku menyerah dengan kekerasan hati mama. Sudah tiga bulan ini mama menjalani kemotherapi tiap bulan setelah diketahui mengidap kanker payudara. Mama sungguh menjalaninya dengan ikhlas. Dia adalah satu-satunya wanita yang paling kukagumi. Tidak pernah ada amarah terlontar dari bibirnya. Wajah cantiknya begitu lembut dan meneduh-kan.

Setelah 5 tahun papa meninggalkan kami karena kecelakaan pesawat terbang, kami semakin dekat berdua. Mama mengajari aku apa saja sejak kecil. Dia sangat baik dan menyayangi papa. Menjaga dan merawat kami berdua karena akulah satu-satunya anak papa dan mama. Hanya ada satu rahasia yang tidak pernah bisa aku tembus, 10.10.10.

Rahasia mama yang sangat terjaga. Papa pun tidak pernah tahu sepanjang hidupnya. Karena papa sangat menyayangi mama, dia membiarkan mama menyimpan rahasia itu untuk dirinya sendiri.

*****

SEJAKaku kecil sampai kini berusia 25 tahun, setiap tanggal 10 Oktober jam 10 malam aku mempunyai tontonan yang menarik.

Mama akan menyiapkan cake kecil, berdandan rapih dan memainkan lagu “Love Story” dengan pianonya. Dia begitu cantik dan menghayati ketika jari-jarinya menekan tuts piano. Matanya terpejam indah. Dia tidak bernyanyi.

Biasanya aku dan papa menjadi penonton. Kadang-kadang papa menyanyi. Ketika aku semakin besar, aku yang menyanyikan lagu itu.

Aku sering bertanya pada papa, “Hari istimewa apa sih, Pa?”

Ulang tahun papa? bukan. Ulang tahun mama? bukan. Tanggal pernikahan mereka? bukan juga. Ulang tahunku juga bukan, hari pertama kenalan kedua orangtuaku? bukan. Hhhhh…..papa cuma mengangkat bahu dan menjawab bijaksana, “Semua orang punya masa lalu….Mamamu boleh cerita kalau dia mau cerita. Jika dia ingin menyimpannya untuk dirinya sendiri juga boleh …”

“Papa tidak penasaran? Aku aja penasar-an.. dan kepengen tahu…,” tanyaku

Papa menggeleng, “Apakah ada bedanya, Mama bercerita atau tidak? Dia tetap menyayangi Papa dan menyayangimu, kan?”

Yaaahh…memang tidak ada bedanya. Mama tetap ibu paling baik sedunia. Tapi, rasa penasaran dan ingin tahuku terus memuncak.

Dan hari ini aku membawanya pulang ke rumah. Menyiapkan cake coklat kecil, meni-durkan dia di sofa, dan tepat jam 10 malam, aku yang memainkan “love story” dengan piano. Ada sesuatu kekuatan gaib malam itu, aku menyanyikannya sambil meneteskan air mata….

Where do I begin

To tell the story of how great a love can be

The sweet love story that is older than the sea

The simple truth about the love he brings to

me

Where do I start

Like a  summer rain

That cools the pavement with a patent leather

shine

He came into my life and made the living fine

And gave a meaning to this empty world of mine

He fills my heart….

He fills my heart with very special things..

With angels’songs

With wild imaginings

He fills my soul

With so much love

That anywhere I go

I’m never lonely

With him along…

Who could be lonely…

I reach for his hand

It’s always there….

Entah mengapa…aku merasakan satu rasa yang aneh….rasa kesepian yang sangat. Rasa cinta yang hilang, yang tidak tergapai, dan tidak selesai…

Air mataku semakin tak tertahankan…. membasahi tuts-tuts piano…

Dan aku semakin tidak bisa berhenti menyanyikannya. Satu kekuatan dahsyat melanda diriku. Membawaku ke masa lalu….

Masa lalu mama………..

*************

Yogya, 5 Agustus 1983

PINTUkamar kosku diketok-ketok, ”Reyditha…Ditha…., ada tamu kesayanganmu…”

Aku terlonjak bangun, dan melempar buku Agatha Christie di tanganku. Menengok cermin sekilas dan tersenyum.

Sahabatku tersayang berdiri di samping motornya dengan jaket kulit hitam kesayang-annya. Dia mengernyitkan alisnya, melihatku.

“Pasti belum mandi.“

“Pastilah,” jawabku sekenanya dan lang-sung naik di boncengan motornya.

“Kemana?”

“Ke toko bukulah….persediaan novelku sudah mau habis!”

Dia cuma tersenyum dan mengucek-ngucek kepalaku.

Sore itu kami habiskan bersama di toko buku dan warung bakmie di ujung Malioboro. Tidak pernah ada waktu yang terbuang jika kami bersama. Tidak pernah ada sedih yang menyelinap di antara kami. Semuanya penuh canda, tawa, dan ledekan-ledekan ceria.

Malioboro menjadi saksi, betapa indahnya persahabatan kami.

Biasanya pulang dari perjalanan penuh ceria itu kami mampir ke tempat kos-nya dan mendengarkan dia main gitar atau keyboard, dengan lagu yang keluar dari suaranya yang begitu indah dan merdu. Kadang-kadang aku menyanyi, tapi suaraku hanya cocok untuk bernyanyi di kamar mandi. Meskipun Harits mengatakan suaraku lembut dan merdu, aku tidak pernah percaya padanya. Aku lebih suka memainkan keyboard dan dia memainkan gitarnya. Lalu, segerombolan teman-teman-nya akan nongkrong mendengarkan kami yang seperti pengamen.

Harits adalah kakak kelasku waktu SMA. saat itu kami hanya saling kenal seadanya saja. Tapi, ketika aku diterima di universitas negeri di Yogya dan dia sudah kuliah lebih dulu di sana, persahabatan kami terjalin dengan indah. Dia sudah mempunyai kekasih di Jakarta, dulu teman SMA-nya juga. Kadang-kadang Mbak Dani datang ke Yogya dan kami akan menghabiskan hari bertiga. Tidak ada kecemburuan di matanya. Dia percaya padaku dan aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaannya. Aku menjaga Harits dari gadis-gadis lain yang tergila-gila pada suara indahnya dan pada ketampanannya tentu saja.

Aku akan seperti bu guru ketika dia mulai iseng meladeni si gadis-gadis.

“Eits…., jangan macam-macam, yaa…. Sebelum berhadapan dengan Mbak Dani, langkahi dulu aku kalau mau macam-macam…”

Dan Harits akan tertawa, lalu mengucek-ngucek kepalaku.

Kalau aku lagi suntuk, aku akan mengajak-nya nonton. Atau kalau dia yang sedang sedih, dia akan datang dan mengajakku makan mie goreng jawa di alun-alun utara. Dan kesedih-annya akan hilang dengan cerita-cerita jenakaku.

Hari-hari kami lalui dengan cepat dan tidak terasa sudah bertahun-tahun dia mengisi hariku.

Dia menjagaku seperti kakak lelaki menjaga adik gadisnya. Tidak ada satu pun teman laki-laki yang lolos sensornya. Bahkan, sahabat-sahabatnya yang naksir aku, selalu ada saja kekurangannya.

“Ditha…, Ray bukan laki-laki yang baik. Dia pernah selingkuh dengan tetangga kosnya, padahal dia masih jalan sama Gita….”

Kali lain, “Ditha, kamu nggak akan bahagia sama Andy, dia bukan tipemu….”

Dan herannya, aku menurut saja dengan apa yang dikatakannya.

Aku merasa aku tidak membutuhkan teman laki-laki yang spesial karena aku sudah punya Harits, yang memberikan segala yang aku butuhkan. Mengajari aku tentang materi-materi kuliah yang tidak aku mengerti, akan memarahi aku jika aku salah, akan mengan-tarkan kemana pun aku ingin pergi, selalu ada setiap saat aku membutuhkan-nya….

Dan kami sering menghabiskan waktu bersama dengan bernyanyi….

Yogya, 3 Oktober 1983

LIMAbulan lagi, kalau skripsinya selesai, Harits akan pergi dari kota ini. Aku merasa beku memikirkan itu. Akhir-akhir ini aku merasa sering dihinggapi ketakutan. Lima tahun bersama-sama dan aku akan sendiri lagi, membuatku ingin muntah.

Dan aku juga melihat Harits sering mela-mun belakangan ini.  Aku jarang mendengar-nya bercerita tentang Mbak Dani lagi. Mereka sudah bertunangan setahun lalu.

Sudah 3 hari ini dia tidak main ke tempat kosku dan menjemputku. Entah kenapa, ada rasa rindu yang begitu hebat dan memuncak. Aku memacu sepeda motorku ke tempat kosnya.

Dia duduk di depan keyboardnya, terme-nung.

“Harits, kenapa , sih?”

Dia mengangkat kepalanya dan tidak pernah kulihat matanya begitu mendung seperti sore ini.

“Ada yang perlu aku bantu dengan skripsi-mu?”

Aku mengambil mesin tik tua dari meja belajarnya. Tidak ada tanda-tanda habis digunakan.

Dia menatapku lamaaa….

“Heiiii….kenapa, sih?”

“Aku mau nyanyi….kamu dengerin, ya….”

Dia memainkan keyboardnya dengan syahdu… aku tercenung, “Love Story”…so romantic he is…

Bait demi bait dia nyanyikan dengan merdu….dan sendu…

She fills my heart…..with very special

things…

With angels’songs

With wild imaginings

She fills my soul

With so much love

That anywhere I go

I’m never lonely…

Aku merasakan guncangan yang hebat dalam dadaku, suatu gumpalan lava yang seakan ingin meledak….. suatu rasa yang aneh..yang menjalari sel-sel di tubuhku…, yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya ketika aku bersamanya…

Ada yang tidak beres denganku. Aku beranjak pergi ke pintu, aku harus pulang.

“Ditha…,” dia menarik lenganku.

Kami saling terdiam, beku, dan saling menatap. Ada satu ikatan yang kuat di antara kami.

Aku melepaskan tangannya, “Aku pulang dulu, Harits.”

“Ditha!” panggilnya lagi tercekat.

Tiba-tiba saja aku ingin menangis….

Aku berlari pulang, memacu motorku dengan kecepatan tinggi, dan membiarkan wajahku ditampar angin sore.

Aku merasakan sesuatu yang aku tidak ingin rasakan.

Aku tidak mau punya rasa ini…tidak mau…

Dan aku menangis malam itu. Lima tahun bersamanya….membuatku takut kehilangan dirinya. Aku tidak tahan dengan tatapannya dan dengan angel song-nya….

Yogya, 10 Oktober 1983

SUDAHseminggu ini kami tidak berkomunikasi. Rasanya aku tidak lagi punya jiwa aku merasa bersalah pada Mbak Dani, pada persahabatan kami.

Tapi, aku juga tidak mau kehilangan dia….

Malam itu dia datang dengan jaket hitam-nya. Dia tampak kacau dengan tampang yang tidak bercukur dan membiarkan kumis dan rambut-rambut halus di dagunya memanjang. Tapi, dia semakin tampan.

“Aku ingin bicara denganmu, Ditha.”

Aku tidak tahu, apakah aku harus menolak atau mengiyakan. Tapi,  yang terjadi adalah aku berganti pakaian dan membiarkan diriku mengikutinya.

Kami saling diam, duduk menyeruput ronde, dan mie magelangan di alun-alun utara. Jantungku berdetak lebih cepat. Aku merasakan iramanya pun sama denganku.

“Semakin lama aku memikirkanmu, semakin aku tidak dapat berpikir jernih…,” dia memulai kata dengan tercekat. “Asal kamu tahu, beberapa bulan terakhir ini hubunganku dengan Dani rasanya berantakan. Aku yang salah. Aku menemukan sesuatu yang lain dengan seseorang. Aku merasa sejiwa dengan-nya. Dan aku merasakan dialah belahan jiwaku, yang aku inginkan sesungguhnya untuk mendampingiku….untuk mengisi hari tua bersama, seseorang yang telah menguasai seluruh hatiku, dan membuatku ingin dia selalu ada di sampingku. Saat aku terbangun di pagi hari dan saat aku memejamkan mata di malam hari….”

Aku merasakan suatu kesedihan yang menghujam hatiku….

Dia mengangkat daguku yang mulai basah oleh air mata yang semakin deras menetes…

“Aku menginginkanmu, Ditha, untuk menemaniku, melewati hari-hari yang akan datang…”

Aku memejamkan mataku, menahan isak yang nyaris keluar.

“Bukan Dani yang aku inginkan menjadi pendamping hidupku…tapi kamu, Ditha… Semakin pendek waktu yang akan kita lewati bersama….semakin aku merasa galau dan kacau….Aku tidak ingin meninggalkanmu sendiri di sini, aku selalu ingin bersamamu…”

Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, menahan dengan segala rasa… Tapi, air mata ini terus mengalir tanpa izinku…

“Maafkan aku, Ditha. Aku mengacaukan persahabatan kita… Aku mencintaimu dan aku melamarmu sekarang di sini…Maukah kamu menikah denganku?”

Sekarang, aku tidak dapat lagi menahannya, aku menangis….. kenapa semua jadi begini?

Dia merengkuhku dalam pelukannya dan aku terus menangis….

Jam menunjukkan pukul 10 malam.

10 Oktober, 10 pm.

10.10.10

*************

Yogya, 31 Desember 1983

DIAberdiri di pagar rumah kosku dengan tubuh yang basah kuyup kehujanan.

Dan aku menangis di balik pagar itu. Suasana rumah kos sepi, banyak yang pulang ke daerahnya masing-masing karena malam tahun baru.

Aku menemukan surat Mbak Dani tiga hari lalu, saat aku membantunya packing-packing barang-barangnya karena dia akan meninggalkan Yogya.

“Harits….aku tidak tahu apa salahku…?

Kenapa sekarang kamu berubah?

Hari pernikahan kita semakin dekat, tapi kamu semakin menjauh…

Aku telah menyerahkan segalanya padamu karena aku yakin kamu akan jadi milikku…

Aku tidak mungkin melanjutkan hidupku jika kamu meninggalkan aku

Kamu satu-satunya laki-laki dalam hidupku, yang pertama dan kuharapkan yang terakhir…

Jangan tinggalkan aku, Harits…

Aku tidak bisa….”

Aku tidak sanggup membaca lanjutannya. Aku menyimpannya dan menangis pulang.

Betapa banyaknya hati yang terluka jika aku melanjutkan hubungan ini.

“Kenapa, Ditha?” bisiknya parau dalam keremangan malam sehabis hujan…

“Aku tidak bisa bersamamu….aku tidak bisa…,” tangisku

“Aku memang salah. Aku melakukan kesalahan dengan Dani, tapi aku mencintai-mu..”

“Aku tidak ingin ada yang menangis ketika aku menikah….  Aku tidak ingin ada hati yang terluka saat aku bahagia. Bahagiaku tidak pernah akan sempurna kalau perempuan sebaik Mbak Dani tidak mau melanjutkan hidupnya….”

“Aku sudah memilihmu, Dhita…”

“Aku tidak ingin menjadi pilihan…. Pergilah…selesaikan urusanmu dengan Mbak Dani… Kalau kita berjodoh, pasti Allah akan mempertemukan kita kembali. Dan jika saat itu tiba, kita sama-sama sedang sendiri dan tidak ada hati yang terluka…”

Malam itu pun berlalu dengan rasa sakit yang luar biasa. Aku bahkan nyaris tidak sanggup menghadapi malam-malam selanjut-nya. Ketika aku tidak mau lagi menemuinya.

Harits terluka. Dan aku terluka lebih parah…..

Betapa sakitnya membohongi diri sendiri.

Aku mencintainya dengan segenap jiwaku…

Aku mencintainya seperti bumi mencintai langit dan langit mencintai bumi.

Karena langit dan bumi tidak mungkin bersatu….

Betapa banyak korban yang akan berjatuh-an jika bumi dan langit bersatu….

*****

BERULANG-ULANGkubaca diary itu dan selalu air mataku menetes….

Mama mencintai seseorang di masa lalunya. Hampir di separuh hidupnya dia membuat suatu ruang dalam hatinya untuk seseorang, tidak pernah dia biarkan orang lain memasuki ruang itu.

Aku memasukkan diary itu ke dalam tasku. Dan mulai celingukan mencari seseorang yang baru tiba dari Belanda. Bandara tidak terlalu ramai sore ini.

“Chacha?” seorang laki-laki tampan separuh baya menyapaku. Senyumnya sungguh hangat.

Aku terpana memandangnya, dia begitu tinggi, mungkin sekitar 180-an cm.

Dia mengajakku ke kafe di ujung bandara.

Kami minum kopi dalam diam.

“Setelah aku menerima email-mu, aku memutuskan untuk pulang ke Jakarta setelah 25 tahun kutinggalkan Jakarta…”

“Tante Dhani?”

Dia tersenyum tipis, dan agak sedih…, ”Kami sudah bercerai 15 tahun yang lalu…”

“Anak Om?” Dia menggelengkan kepalanya …,  ”Kami tidak dikaruniai anak..”

“ Ahhh…maaf, Om.”

Dia mengibaskan tangannya, ”Tidak apa, Chacha…“

Dia tersenyum dan bercerita, bahwa dia melanjutkan S3 piano di Belanda dan meng-habiskan harinya dengan menjadi dosen dan menciptakan lagu-lagu.

“Kamu tahu, dulu aku sering menciptakan lagu dan mamamu yang membuatkan liriknya …. Dia perempuan yang sangat luar biasa…”

Matanya menerawang jauh, ada sedikit kebahagiaan di sana, mungkin saat kenangan indah generic prescription viagra bersama mama sekelebat lewat.

“Aku turut berduka cita tentang papamu akibat kecelakaan pesawat. Sungguh, aku baru  tahu berita itu.”

“Om membenci Mama?” tanyaku hati-hati…

“Tidak pernah sedikit pun ada rasa benci di hatiku untuknya. Yang ada hanyalah rasa sayang. Selalu ada..sampai sekarang…”

Dia melanjutkan, “Aku melewati hari-hari yang gelap setelah mamamu menolakku. Aku tidak sekuat dia. Dia sungguh luar biasa… menekan egonya untuk kebahagiaan orang lain….”

Matanya tampak berkaca-kaca, “Aku menikahi Dani 6 bulan setelah itu. Aku hanya mendengar berita, mamamu menikah dengan papamu setahun kemudian…”

“Aku mencari track record papamu dan aku tahu dia laki-laki yang baik. Aku merasa lega Mamamu memilihnya. Meskipun aku jauh darinya, aku selalu memonitor keadaannya. Namun, aku menghindari kontak dengannya. Aku takut rasa sayangku akan menguasai kami lagi. Dani tahu akhirnya, bahwa aku tidak pernah mencintainya selama pernikahan kami. Dulu mungkin aku mencin-tainya sebelum mamamu hadir dan mengisi hari-hariku..”

Dia menghela nafas, “Namun, setelah aku bercerai dengan Dani, aku menutup hatiku dan tidak mau lagi mengetahui apa pun keadaan mamamu. Aku takut, aku tidak bisa menguasai akal sehatku dan menculiknya….” Dia tertawa kecil….

“Om…,” aku berkata hati-hati…, ”Tahukah Om, jika Mama selalu merayakan tanggal 10 Oktober setiap tahun?”

Dia terkesiap, menatapku lama….

“10 Oktober, tepat jam 10 malam ketika aku melamarnya…”

“Yaaa, 10 Oktober tiap jam 10 malam… Mama akan memainkan piano, Love Story..”

“Dia…..melakukan itu setiap tahun..?”

Aku mengangguk dan ingin mengatakan betapa hebatnya Mamaku menjaga cintanya.

“Aku…juga melakukan hal yang sama…10 Oktober jam 10 malam…Love Story.. Aku selalu mengenang saat itu, bermain piano sendiri”

Sekarang, aku yang terpana..…, Ya Tuhan…. mereka bagaikan jiwa yang terbelah…

Dia menarik tanganku, “Ayo sekarang kita ke rumah sakit…aku tidak sabar ingin meme-luknya, menciumnya, menikahinya…. setelah 27 tahun…akhirnya aku bisa mendapatkan belahan jiwaku.  Aku selalu teringat kata-katanya malam itu…., ‘Kalau kita berjodoh, pasti Allah akan mempertemukan kita kembali. Dan jika saat itu tiba, kita sama-sama sedang sendiri dan tidak ada hati yang terluka…’”

Aku menahan tangannya, ”Om tidak membuka emailku 2 hari yang lalu?”

Mataku berkaca-kaca memandangnya….

Dia menatapku, diam, dan beku…

“Jangan, Chacha…jangan katakan sesuatu yang buruk…..”

Aku menumpahkan air mataku dan memeluknya……

“Mama sudah pergi, Om. Dua hari lalu….. sudah pergi…..”

(Jakarta, 9 Februari 2010)

Email This Post Email This Post Print This Post Print This Post
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
One Response
  1. bayi says:

    t h a n k s . . .

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>